Rabu, 02 Mei 2007

Mutiara Alam Bima

Tanggal : 2 Mei 2007
Sumber : http://www.bimacenter.com/index.php?option=com_content&task=view&id=95&Itemid=164


Mutiara bukan hanya suatu keindahan yang selalu diimpikan oleh setiap wanita, akan tetapi juga merupakan komoditas unggulan perikanan budidaya yang perlu ditingkatkan produksinya. Karena hampir seluruh produksinya ditujukan untuk diekspor keluar negeri. Saat ini para pembeli mutiara Indonesia di Jepang telah banyak yang mengetahui bahwa mutiara tersebut berasal dari Indonesia, sehingga akan lebih baik bila membeli secara langsung dari Indonesia. Peningkatan produksi yang dicapai saat ini, dinilai cukup besar. Selama periode 2005-2009 produksi mutiara diharapkan meningkat dari 12 ton pada tahun 2005 menjadi 18 ton pada tahun 2009.

Memang pengembangan usaha budidaya mutiara masih banyak mengalami hambatan baik yang bersifat teknis maupun non teknis. Walaupun saat ini kondisi keamanan dapat dikatakan lebih kondusif, tetapi masih sulit bagi perusahaan budidaya mutiara yang telah hancur untuk bangkit kembali.

Untuk membangkitkan kembali usaha budidaya mutiara sekaligus menciptakan iklim usaha yang kondusif, pada TA 2003 melalui dana dekonsentrasi telah dialokasikan dana untuk penguatan modal bagi kelompok pembudidaya kerang mutiara KUB Bangket Segara Lauq di Kab. Lombok Timur-NTB sebesar Rp 500 juta, berupa pengadaan sarana budidaya dan produksi termasuk benih kerang mutiara. Kegiatan in dilanjutkan lagi pada tahun 2004 dengan dana sebesar Rp. 450 Mutiara juta, dengan penerima bantuan yangsama. Hal ini dilakukan agar dampak pengembangan usaha budidaya mutiara oleh KUB Bangket Segara Lauq dapat dilihat lebih nyata. Sedangkan pembinaan teknisnya dilakukan oleh Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Pantai (BPBPP) Sekotong.

Dilihat dari ukuran kerang mutiara yang dibudidayakan menunjukkan perkembangan yang cukup bagus. Baik yang dilakukan dengan dana penguatan modal TA. 2003 maupun TA 2004. Disamping itu terlihat adanya kemitraan usaha antara pemasok benih dengan KUB. Melalui kegiatan ini diharapkan agar masyarakat yang semula hanya merupakan "Penonton", dapat memiliki usaha sendiri sekaligus mengamankan lokasi tersebut dari penjarahan.

Untuk mengevaluasi keberhasilan sekaligus menginventarisir permasalahan dalam pelaksanaan kemitraan, serta mempertemukan langsung perusahaan/ UPT pensuplai benih dengan kelompok pembudidaya, pada pertengahan Mei 2005 lalu, di NTB telah diselenggarakan Temu Kemitraan Usaha Budidaya Mutiara, yang dihadiri oleh wakil-wakil dari Ditjen. PK2P Ditjen. Perikanan Budidaya, Dinas Perikanan dan Kelautan Prov. NTB, Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Lombok Timur, Kab. Lombok Barat, Kab. Sumbawa, Kab. Dompu dan Kab. Bima, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), PT. Bank NTB, BPBPP Sekotong, Balai Benih Ikan Pantai (BBIP) Sumbawa Barat, Loka Budidaya Laut Lombok, Perusahaan Budidaya Mutiara di Prov. NTB dan KUB Bangket Segara Lauq.

Perkembangan kemitraan
Kemitraan Usaha Budidaya Mutiara di NTB yang telah dilakukan pada tahun 2000 di Kab. Sumbawa dan Kab. Lombok Barat untuk pengadaan sarana budidaya didanai oleh DanaAlokasi Khusus (DAK), dengan bimbingan teknis dilakukan oleh PT. Selat Alas dan PT. Sima Mutiara. Kemitraan usaha di Kab.Bima dilakukan oleh PT. Bima Sakti Mutiara secara swadaya. Tetapi Kemitraan Usaha ini tidak berkelanjutan, disebabkan pola kemitraan usaha yang belum mantap, sedangkan di Kab. Bima sampai saat ini masih berlang-sung.

Sedangkan untuk Kab. Lombok Timur dimulai pada tahun 2003 dan dilanjutkan pada tahun 2004 melalui dana dekonsentrasi untuk penguatan modal KUB Bangket Segara Lauq yang terdiri dari 50 orang pembudidaya, yang juga merupakan pembudidaya kerapu dan lobster, bermitra dengan PT. Selat Alas, PT. Budidaya Mutiaratama dan PT. Buana Gemilang Hamparan Mutiara (BGHM).

Kegiatan ini dilanjutkan pada tahun 2005 yang merupakan bagian dari kegiatan Program Budidaya Pedesaan (BUPEDES), dilakukan dalam bentuk pembelian benih kerang mutiara, teknologi insersi inti dan penampungan kerang mutiara serta pemasaran biji mutiara. Benih diperoleh dari PT. Budidaya Mutiaratama, PT. Selat Alas, BPBPP Sekotong sebanyak 13.000 ekor dan kerang mutiara dari alam sebanyak 500 ekor.

Hingga saat ini stock kerang mutiara sebanyak 80 ekor ukuran 1 - 3 cm, 6.258 ekor ukuran 5-8 cm dan 1.000 ekor kerang mutiara ukuran 8-12 cm yang sudah diinsersi dan diperkirakan akan panen pada bulan Juni - Juli 2006.

Untuk memantapkan kemitraan usaha, dalam kesem-patan ini telah dilakukan penan-datanganan Nota Kesepahaman antara : KUB dengan PT Selat Alas, PT Budidaya Mutiaratama sebagai pemasok benih kerang mutiara; KUB dengan LBL Lombok dan BPBPP Sekotong dalam penyediaan benih, pendampingan teknologi budidaya mutiara dan pembinaan SDM, dan KUB dengan PT. BGHM yang menampung kerang mutiara, insersi inti dan pemasaran biji mutiara.

Harapan
Dengan pertemuan ini, diharapkan adanya upaya yang mampu mendorong peningkatan perkembangan budidaya mutiara di Indonesia, yang antara lain: pembebasan PPn 10 % kerang dan biji mutiara; sertifikasi mutu biji mutiara dan penerapan Surat Keterangan Asal (SKA).
Perlunya peningkatan akses pasar melalui lobby perdagangan luar negeri untuk penguatan promosi (branding), Market intelligence dan penguatan image bahwa South Sea Pearl (SSP) adalah mutiara asli Indonesia serta fasilitas pemasaran mutiara melalui penyelenggaraan lelang nasional.

Selasa, 10 April 2007

Salai Pujud Tampil di MTQ Provinsi Riau

Tanggal : 10 April 2007
Sumber : http://www.rokanhilir.go.id/berita.php?go=beritalengkap&id=1505

PUJUD (RP) ----- Kesuksesan yang telah diperlihatan oleh kafilah Kecamatan Pujud dalam mengisi kegiatan pada MTQ V Rohil di Kepenghuluan Rantaupanjang Kanan, Kecamatan Kubu kemarin, tampaknya menjadi motivasi guna mengikuti acara yang sama untuk tingkat Provinsi Riau. Dimana, pada MTQ XXVI Provinsi Riau yang dipusatkan di Pangkalankerinci, kafilah asal Kabupaten Rohil merencanakan akan menampilkan ikan salai dari Kecamatan Pujud.

Camat Pujud, Jabil Syamsuddin yang temui Riau Pos kemarin tidak menafikan adanya rencana untuk menampilkan produk unggulannya pada MTQ tingkat Provinsi Riau nanti. Ikan salai ini, merupakan salah satu kegiatan home industri yang menjadi produk unggulan bagi Kecamatan Pujud. Dikatakan produk unggulan, dimana sebagian besar kegiatan home industri di Kecamatan Pujud adalah membuat ikan salai. Malah, ada di salah satu daerah di Kecamatan Pujud itu, sekitar 50 persen pendudukan membuat ikan salai, kata Jabil Syamsuddin.

Stand pameran dan bazar yang selalu muncul di setiap kegiatan MTQ, lanjut Jabil Syamsuddin, merupakan salah satu media promosi yang cukup tepat. Karena, semua produk unggulan di masing-masing daerah termasuk asal Kecamatan Pujud, bisa dikenal oleh masyarakat secara luas. Makanya, pada MTQ V Rohil di Kubu kemarin itu, kita menampilkan produk unggulan berupa ikan salai.

Dari pelaksanaan di tingkat kabupaten ini, Pemkab Rohil sudah merencanakan akan mengikutsertakan dan menampilkan produk unggulan Kecamatan Pujud yakni ikan salai di tingkat provinsi. Kita selaku pihak kecamatan, jelas sangat meresponnya. Karena, melalui ajang promosi itu, ikan salai asal Kecamatan Pujud bisa lebih dikenal lagi oleh masyarakat luas, kata Jabil Syamsuddin.

Menjawab Riau Pos, Jabil Syamsuddin menjelaskan, produksi ikan salai yang dihasilkan dari Kecamatan Pujud, ternyata telah dipasarkan di sejumlah daerah baik dalam maupun luar Kabupaten Rohil. Pangsa pasar di luar wilayah Kabupaten Rohil, yakni terdapat di dalam wilayah Pulau Jawa. Saya sudah mendapatkan informasi tentang produksi ikan salai asal Kecamatan Pujud ini, juga beredar di Pulau Jawa. Bagi masyarakat di Pulau Jawa ini, ikan salai dari Kecamatan Pujud itu dikenal dengan sebutan ikan asap. Sekarang ini, permintaannya sudah lumayan banyak malah informasinya ikan salai ini akan dipasarkan lagi ke Bogor, kata Jabil Syamsuddin.

Mengingat adanya tuntutan di beberapa luar daerah, tambah Jabil Syamsuddin, maka produksi pembuatan ikan salai perlu untuk terus ditingkatkan. Hanya saja, dalam upaya meningkatkan produksi tersebut, berbagai hambatan dan kendala masih ditemukan. Salah satu diantaranya adalah menyangkut prosesi pembuatannya yang masih bersifat tradisional. Hal-hal seperti itu perlu untuk kita maklumi. Dimana, prosesi pembuatannya masih bersifat tradisional, kata Jabil Syamsuddin.(

Selasa, 03 April 2007

Potensi Perikanan

Tanggal : 3 April 2007
Sumber : http://www.sinjai.go.id/baru/index.php?option=com_content&task=view&id=52&Itemid=51

Kabupaten Sinjai yang memiliki garis pantai sepanjang 28 Km yang terdiri atas wilayah pantai daratan sepanjang 17 km dan wilayah kepulauan dengan panjang garis pantai 11 Km.

Dengan panjang garis pantai yang dimiliki oleh kabupaten Sinjai memiliki prospek yang cerah dalam hal pengembangan usaha di sektor perikanan dan kelautan, seperti Perikanan tangkap, Budidaya laut, Budidaya tambak, budidaya air tawar dan Wisata bahari.

Kabupaten Sinjai memiliki potensi Perikanan yang besar yang didukung dengan ketersediaan sarana dan prasarana Pangkalan Pendaratan Ikan, sehingga sangat memungkinkan bagi pengembangan usaha di sektor kelautan dan perikanan. Hal ini memberikan dukungan yang besar dalam upaya menwujudkan Kabupaten Sinjai sebagai pemasok ikan terbesar di Sulawesi Selatan.

Selain Perikanan tangkap, kabupaten sinjai juga memiliki potensi yang besar untuk pengembangan budidaya laut, tambak, dan budidaya air tawar.


Komoditi-komoditi Unggulan Kabupaten Sinjai Sektor Perikanan dan Kelautan antara lain :

1. Ikan Cakalang/Tongkol

Potensi akan Ikan khususnya Ikan Cakalang /Tongkol di kabupaten Sinjai memiliki potensi yang cukup besar dengan potensi pertahunnya dengan lokasi penangkapan di Teluk Bone dan Laut Flores.
Potensi : 16.382,6 Ton/Tahun
Produksi : 4.448,2 Ton

2. Ikan Napoleon

Ikan Napoleon merupakan ikan yang memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Potensi budidaya ikan napolen di Kabupaten Sinjai Dengan lokasi budidaya di Kec. Pulau Sembilan.
Potensi : 186,9 Ha
Produksi : 10,2 Ton

3. Lobster

Pengembangan komoditi ini di kembangn di daerah pantai kepulauan sembilan. Pengembangan komoditi ini dengan menggunakan keramba.
Potensi Budidaya : 186,9 Ha
Produksi : 19,5 Ton

4. Teripang

Komoditi ini merupakan salah satu komoditi unggulan di bidang perikanan yang pengembangannya di kecamatan pulau sembilan yang berada di pulau Batang lampe dan Kodingare.
Potensi Budidaya : 186,9 Ha
Produksi : 48,8 Ton

5. Ikan Kerapu

Pengembangan Jenis ikan ini dikembangan di Kecamatan Pulau Sembilan di pulau liang-liang dengan mengunakan keramba.
Potensi Budidaya : 186,9 Ha
Produksi : 142,8 Ton

6. Rumput laut

Komoditi ini merupakan salah satu komoditi unggulan di bidang perikanan yang pengembangan-nya di kecamatan pulau sembilan yang berada di pulau Batang lampe dan Kodingare. Dan di kecamatan sinjai utara. Jumlah produksi setiap tahun terus bertambah mengingat komoditi ini banyak merupakan komoditi ekspor.
Potensi Budidaya : 360 Ha
Produksi : 23,9 Ton

7. Kerang Mutiara

Pengembangan komoditi ini di kembangn di daerah pantai kepulauan sembilan. Pengembangan komoditi ini dengan menggunakan keramba
Potensi Budidaya : 29 Ha

8. Abalon / Mata tujuh
Pengembangan komoditi ini di gugusan pulau sembilan yang terletak pada pulau Kanalo di kecamatan pulau sembilan. Komoditi ini merupakan komoditi unggulan dan baru.
Potensi Budidaya : 0,3 Ha
Produksi Alami : 2,710 Ton

9. Ikan bandeng

Ikan bandeng merupakan komoditi yang cukup banyak dikembangakan oleh masyarakat pesisir. Pengembangan ini berada pada tiga kecamatan yakni, Kecamatan Sinjai Utara, Sinjai Timur, dan Tellulimpoe.
Potensi Budidaya : 658 Ha
Produksi : 211 Ton

10. Udang

Budidaya tambak udang telah diusahakan oleh masyarakat pesisir di kabupaten Sinjai. Pengembangan komoditi ini berada di tiga kecamatan yakni Sinjai Utara, Sinjai Timur, dan Tellulimpoe. Komoditi ini merupakan salah satu produk unggulan perikanan yang mana telah menjadi komoditi ekspor untuk kabupaten sinjai.
Potensi Budidaya : 658 Ha
Produksi : 14,10 Ton

11. Ikan Mas

Pengembangan komoditi ikan mas berada di wilayah kecamatan sinjai barat. Pengambangan komoditi ini terdapatnya Balai Benih Ikan Air Tawar.
Potensi Budidaya : 410 Ha
Produksi : 17 Ton

Rabu, 07 Maret 2007

Berburu Udang dan Kerapu di Bangka Belitung

Tanggal : 07 Maret 2007
Sumber : http://www.wirausaha.com/bisnis/agribisnis/berburu_udang_dan_kerapu_di_bangka_belitung.html


Tak hanya keindahan alam yang bisa diandalkan dari Pulau Bangka Belitung. Selain berpotensi untuk bisnis pariwisata, diam-diam Bangka Belitung juga memiliki potensi agribisnis perikanan untuk dikembangkan. Ya, daerah yang tercatat sebagai provinsi ke-31 ini memiliki potensi sumber daya alam yang tak dapat dipandang sebelah mata.

Salah satu sektor prospek yang gencar dikembangkan oleh daerah kepulauan ini adalah sektor perikanan dengan empat jenis komoditas unggulan. Komoditas tersebut adalah ikan kerapu, udang, tepung ikan, dan rumput laut. Khusus ikan kerapu dan udang, daerah ini tengah membuka luas kesempatan bagi para investor, khususnya dalam hal budidaya.

Budidaya ikan kerapu mulai diperkenalkan kepada masyarakat di Kabupaten Bangka pada tahun 1984. Kegiatan tersebut dilakukan oleh Dinas Perikanan sebagai percobaan dan oleh swasta sebagai kegiatan sampingan dari usaha penangkapan ikan kerapu, di mana ikan-ikan kecil yang belum mencapai ukuran ekspor untuk sementara ditampung dalam kolam penampungan sampai menjadi ukuran untuk siap diekspor.

Ikan kerapu merupakan salah satu jenis ikan laut yang banyak hidup di sekitar terumbu karang, pantai sekitar muara sungai, pasir bercampur karang dengan dasar yang keras, pada kedalaman 5 – 10m, dengan jarak 2 -3 mil dari pantai. Ikan ini memiliki rasa yang lezat dan banyak diminati oleh konsumen dalam dan luar negeri terutama Cina, Singapura, Taiwan, Hongkong dan Jepang, dengan permintaan yang terus meningkat.

Selama ini produksi ikan kerapu di Indonesia pada umumnya merupakan hasil penangkapan para nelayan tradisional, dengan kapasitas produksi yang masih terbatas dan belum mampu memenuhi permintaan pasaran ekspor. Oleh karena itu, untuk meningkatkan produksi dan memenuhi peluang ekspor, budidaya ikan kerapu merupakan salah satu bidang usaha prospektif yang ditawarkan oleh pemerintah daerah kepada investor untuk dikembangkan.

Peluang lainnya, investasi usaha tambak udang merupakan salah satu bidang usaha yang dapat dikembangkan di provinsi tersebut. Selain prospek pasaran ekspor yang masih terbuka, Kabupaten Bangka sebagai kabupaten yang dikelilingi lautan, memiliki lahan yang cukup untuk dikembangkan sebagai areal tambak udang. Lebih dari itu, guna mendukung berkembangnya bisnis sektor perikanan pada umumnya, Pemerintah Daerah Kabupaten Bangka juga mengembangkan Kawasan Pelabuhan Perikanan Terpadu, yang akan mendukung pengembangan usaha tambak udang yang dilakukan oleh investor.

Melihat prospek pemasaran udang yang masih terebuka khususnya untuk ekspor, investasi usaha lambak udang dapat dikembangkan. Di daerah ini tersedia lahan yang cocok untuk tambak udang seluas 107.900 Ha, yang tersebar di beberapa wilayah seperti Kecamatan Sungailiat, Merawang, Pangkalan Baru dan Belinyu.

Hal menguntungkan lainnya, letak geografis yang strategis bermanfaat untuk pengembangan berbagai sektor ekonomi, berkaitan dengan posisi strategis daerah, dekat dengan pusat pertumbuhan segitiga Singapore-Johor-Riau serta kawasan Kepulauan Natuna. Pengembangan dapat dilakukan melalui kerjasama dengan investor baik investor dalam negeri maupun investor luar negeri.

Sekedar diketahui, tak hanya investor dalam negeri, investor luar negeri seperti Taiwan yang bergerak di bidang perikanan dan kelautan misalnya, juga telah menyatakan minatnya menanamkan modal di Bangka Belitung. Kesempatan yang sayang dilewatkan bagi yang ingin memulai agribisnis perikanan di Tanah Air. (SH)

Selasa, 26 Desember 2006

IPB Luncurkan 30 Produk Unggulan Melalui Agrimart

Tanggal : 26 Desember 2006
Sumber : http://www.ipb.ac.id/id/?b=222

Kehadiran Agrimart IPB (Institut Pertanian Bogor) bisa menjadi ajang pembuktian bahwa produk-produk unggulan IPB sangat layak untuk dipasarkan. Demikian dikatakan Rektor IPB, Prof.Dr.Ir. H. Ahmad Ansori Mattjik, M.Sc., dalam sambutannya pada Grand Opening Agrimart di Kampus IPB Darmaga, Jumat (22/12).


“Selama ini IPB telah banyak memproduksi beragam produk yang sebenarnya memungkinkan untuk dipasarkan, tapi ternyata belum bisa dipasarkan. Karenanya melalui Agrimart IPB ini, kita mulai belajar bagaimana berdagang. Kita coba buktikan, produk yang kita hasilkan memiliki kualitas dan kuantitas yang pantas untuk dipasarkan. Selain tentunya kita harapkan pula kontinuitas dari produk yang kita hasilkan,” papar Rektor.

Lebih lanjut Rektor menjelaskan, berdirinya Agrimart IPB sejalan dengan konsep ABGC yang dicanangkan IPB, yakni Academician, Businessman, Governance, dan Community. “Tanpa kerjasama empat unsur tadi, kesejahteraan yang kita dambakan sukar untuk diwujudkan,” terangnya seraya menegaskan, Agrimart IPB adalah milik IPB.

Tampak hadir dalam kesempatan tersebut antara lain Wakil Rektor I Prof.Dr.Ir. M. Achmad Chozin M.Agr., Wakil Rektor III Prof.Dr.Ir. Yusuf Sudo Hadi M.Agr., Kepala LPPM Prof. Dr. Rizal Syarief Sjaiful Nazli, DESS., Direktur SDM&AU Ir. Moh. Yamin, M.Agr. M.Sc., Kepala Kantor Prohumasi drh. Agus Lelana, SpMP, M.Si., Kepala KPSI Ir. Julio Adisantoso, M.Komp., Dekan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Dr. Hardinsyah., dan Kepala Poliklinik IPB, Dr.dr. Hj. Sri Budiarti.

Sementara itu, sedikitnya 30 produk unggulan IPB tersedia di Agrimart IPB. Mulai dari bakso ikan, susu pasteurisasi, nata de coco, air mineral, stik sale pisang, pupuk organik, madu, beras organik, obat herbal, baso sapi dan jamur siap saji.

Di tempat yang sama, Direktur Operasional PT. Indomarco Prismatama, Laurentius Tirta Wijaya mengatakan, berbagai produk unggulan IPB yang saat ini baru bisa diperoleh di Agrimart IPB, ke depan akan mulai dipasarkan di seluruh Indomart di Indonesia yang jumlahnya mencapai 2.300 buah. Menurutnya, hal ini sebagai bentuk kepedulian PT. Indomarco Prismatama pada dunia pendidikan dan pertanian.

“Agrimart IPB ini tidak saja melengkapi fasilitas kampus, tetapi juga menjadi aset kampus IPB. Dengan harapan tentunya dapat dimanfaatkan oleh civitas kampus dan masyarakat sekitar,” imbuh Laurentius.

Sementara itu, Kepala Kantor Prohumasi IPB drh. Agus Lelana, Sp.MP, M.Si., kepada Pariwara menjelaskan, keberadaan Agrimart merupakan bagian tidak terpisahkan dari proses implementasi IPB menjadi perguruan tinggi (PT) yang otonom.

”Selain menjadi outlet produk-produk IPB, dalam jangka panjang Agrimart diharapkan menjadi income generating untuk menunjang pendidikan IPB menuju academic excelent. Perlu diketahui, pembuatan produk-produk itu dilakukan oleh unit-unit kerja IPB, seperti Departemen, Pusat ataupun UKM binaan LPPM IPB, yang melibatkan para mahasiswa dan alumni IPB. Karenanya, secara tidak langsung melatih life skil l mahasiswa,” papar Agus, M.Si.

Pada bagian lain, menjelang berakhirnya peresmian Agrimart, belasan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IPB melakukan aksi penolakan Agrimart. Menjawab aksi ini, secara terpisah Rektor mengatakan, bahwa dalam masa proses implementasi IPB menjadi PT BHMN, bisa dipahami jika ada perbedaan pendapat.

”Pak Rektor mengatakan, adanya aksi demo mahasiswa adalah hal yang wajar. Karena mungkin mereka belum memahami bahwa IPB memerlukan format Agrimart untuk memasarkan produk-produk IPB dalam rangka menunjang pendidikan,” kata Agus, M.Si., saat mengemukakan kembali penjelasan Rektor pada jumpa pers.

Menyinggung keinginan para peserta aksi agar IPB sebaiknya membina Kopma (Koperasi Mahasiswa), dijelaskan Kepala Kantor Prohumasi, Kopma belum dapat mengikuti ”kecepatan” Agrimart. ”Oleh karena itu, Agrimart perlu dicontoh oleh Kopma yang selama ini juga telah memiliki outlet dan menyediakan beragam produk. Pada akhirnya, diharapkan Kopma bisa menjadi mitra bagi Agrimart,” harap Agus mengakhiri.

Kamis, 30 November 2006

Indonesia Kuasai 31% Pasar Rumput Laut Dunia Pada 2007

Tanggal : 30 November 2006
Sumber : http://www.kapanlagi.com/h/0000146170.html

Kapanlagi.com
- Indonesia pada 2007 diprediksi menguasai sekitar 31% pangsa pasar rumput laut (Eucheuma dan Gracilaria) dunia.

"Sampai dengan tahun 2010, kontribusi Indonesia akan terus meningkat meski tidak terlalu menonjol. Tahun 2008 diprediksikan kontribusi Indonesia yaitu sekitar 32%, 2009 sekitar 34% dan 2010 sekitar 35%," kata anggota tim rumput laut Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi, Achmad Zatnika usai lokakarya Pengembangan Rumput laut Nasional, di Jakarta, Kamis (30/11).

Sementara untuk produk olahan rumput laut yaitu karaginan, Indonesia mampu menguasai pasar dunia sekitar 13% pada 2007, pada 2008 sekitar 13,7%, 2009 sekitar 14% dan 2010 sekitar 15%.

Achmad mengatakan dengan potensi yang dimiliki Indonesia, seharusnya kontribusi karaginan dan rumput laut nasional di pasar dunia dapat ditingkatkan, namun kendala yang dialami adalah standarisasi mutu dan keterampilan petani rumput laut.

"Karena permintaan rumput laut sebagai bahan baku sangat tinggi, petani tidak lagi mengutamakan mutu rumput laut. Rumput laut yang berkualitas adalah yang dipanen pada usia 45 hari, tetapi akibat permintaan luar biasa dari para pengumpul, mereka memanen lebih awal," katanya.

Ia juga mengatakan kendala yang dihadapi adalah, transfer teknologi yang sulit dan permodalan.

"Penguasaan teknologi kita kurang sehingga yang diperdagangkan petani hanya bahan baku saja dan bukan produk olahan. Adakalanya petani tidak memperhatikan pengolahan rumput laut yang paling dasar yaitu penjemuran dan tidak memperhatikan kemauan pasar," katanya.

Selain itu, petani rumput laut serta usaha mikro, kecil dan menegah (UMKM) masih kesulitan modal. Umumnya mereka tidak memiliki jaminan untuk mengajukan kredit pada bank.

"Jika kita mampu mengatasi masalah-masalah tersebut, maka rumput laut dan produk olahannya dapat menjadi produk unggulan negara kita dan mampu bersaing dengan pasar luar negeri," katanya.

Jumlah keseluruhan lahan potensi rumput laut yaitu sekitar 11.500 hektare.

Sementara itu, Direktur Usaha dan Investasi Ditjen Pengolahan dan Pemasaran hasil Perikanan, Stafril Fauzi mengatakan volume ekspor rumput laut selama 2000-2004 naik sebesar 19,83% dan perolehan devisa pada 2004 yaitu US$6,2 juta.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2004, volume ekspor rumput laut sekitar 50 ribu ton dengan nilai sekitar US$24,3 juta. Sedangkan ekspor agar pada 2004 yaitu 3 ribu ton dengan nilai sekitar US$6,2 juta dan ekspor alginate yaitu 6,2 kilogram dengan nilai sekitar US$14 ribu.

Negara produksi rumput laut yang menjadi pesaing Indonesia yaitu Filipina, Malaysia, Jepang, Amerika Serikat, Kanada, Eropa, India, Chili dan Madagaskar.

Sabtu, 07 Oktober 2006

Terasi Udang Merah Dipromosikan ke Luar Negeri

Tanggal : 07 Oktober 2006
Sumber : http://rokanhilir.go.id/berita.php?go=beritalengkap&id=653

BAGANSIAPI-API (RP) ----- Terasi udang merah yang dihasilkan dari industri menengah yang ditangani oleh PT Subur Bahari Mandiri (SBM) yang berlokasi di Rajabejamu, Kecamatan Sinaboi, Kabupaten Rohil, tampaknya terus ditingkatkan. Setelah bisa memenuhi permintaan pasaran di dalam, pihak SBM akan mempromosikan terasi udang merahnya ke luar negara yang dijembatani langsung oleh pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Rohil.

Penegasan tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Rohil, Drs H Herman Tambusai yang ditemui Riau Pos, Kamis (5/10) di ruang kerjanya. ‘’Kita melihat, perkembangan terasi udang merah yang ditangani oleh PT SBM itu, terus mengalami kemajuan. Untuk sekarang ini, pangsa pasarnya baru memenuhi permintaan yang ada di dalam wilayah Indonesia ini,’’ kata Herman Tambusai.

Mengingat memiliki potensi yang cukup prespektif, tambah Herman Tambusai, muncul pemikiran baru untuk mempromosikan potensi kegiatan industri menengah seperti terasi udang merah dari Rajabejamu tersebut ke sejumlah manca negara. Diantaranya adalah negara Thailand dan India. Sehingga, produk Kabupaten Rohil tersebut akan dikenal lebih meluas lagi.

‘’Untuk sampai bisa memasuki pasaran di Thailand dan India inilah yang sedang kita carikan solusinya. Kita punya rencana bahwa terasi udang merah dari kabupaten Rohil ini bisa menembus pangsa pasar yang ada di negara luar itu. Untuk bisa menembus pangsa pasar di luar negara itu, sudah barang tentu segala bentuk persiapaanya harus dilakukan dengan matang,’’ kata Herman Tambusai.

Salah satu diantaranya, tambah Herman Tambusai, terasi udang merah yang disudah dihasilkan oleh PT SBM tersebut harus benar-benar siap saji. ‘’Kalau melihat kondisi yang ada itu, kan belum siap saji. Makanya, kita cuba untuk mengambil berbagai kebijakan sehingga terasi udang merah yang akan dibawa ke luar negara itu benar-benar sudah siap saji. Ini yang sedang kan carikan solusinya,’’ kata Herman Tambusai.

Menjawab Riau Pos, Herman Tambusai secara diplomatis tidak menafikan tentang kabupaten Rohil yang banyak memiliki produk-produk unggulan khususnya dalam bentuk makanan dan minuman baik yang dilakukan oleh kegiatan home industri maupun usaha menengah. Kendati banyak memiliki produk unggulan, namun sayangnya, potensi tersebut belum banyak yang tereksposekan.

‘’Sebenarnya banyak produk unggulan yang siap untuk diangkat ke atas permukaan itu. Hanya saja, ada beberapa hal yang menyebabkan sulitnya untuk mengangkat potensi itu. Untuk itu, kita akan coba menggali semua potensi yang ada kitu. Gilirannya, akan dilakukan pembinaan sehingga mampu memberikan kontribusi kepada daerah maupun lingkungannya,’’ kata Herman Tambusai. (sah)